Apa yang kita cari?
Tuesday, 1 April 2014
SUDUT HUKUM | Apa sebenarnya yang kita cari dari
akademi atau sekolah? Sangat banyak waktu yang telah kita habiskan disitu. Enam
tahun di Sekolah Dasar, tiga tahun di SLTP, tiga tahun di SLTA dan ditambah
beberapa tahun di perguruan tinggi.
Untuk apa informasi yang telah kita dapatkan
disitu ? ini harus kita pertanyakan pada diri kita sendiri, mungkin
terlalu konyol tapi apa salahnya untuk mencoba. Ingatkah anda beberapa waktu lalu ?
saat perekrutan PNS tahun 2013, banyak sekali para honorer yang berdemo,
kenapa ? mereka protes atas ketidak lulusan mereka.
Seharusnya tanya dulu pada pribadi kita ?
layakkah kita lulus ?. apa kita sudah menguasai soal-soal yang diberikan
saat ujian seleksi ? , coba jawab………….. ! jangan-jangan pertanyaannya
saja kita tidak tahu, apalagi jawabannya. Maka wajar anda tidak lewat.
Ada sebahagian yang mengatakan ‘ bukan soal
bisa atau tidaknya, tapi bukankah Bupati sudah berjanji ?’. Oke,,,, baiklah, apa boleh bupati meluluskan
orang-orang yang tidak cukup syarat ? apa ini boleh menurut hukum? Apa
hukum mentolerir perbuatan yang seperti ini ? jikapun ada Bupati yang
melakukan ini, maka patut dipertanyakan, bukankah pada saat kampanye dia
berjanji akan memparbaiki, mensejahterakan rakyat ? apa mungkin
mensejahterakan rakyat dengan bermodal pegawai ‘bodoh ‘ ?
Jadi, Untuk apa berdemo, karena ini bukan salah
bupati atau walikota, ini sepenuhnya kesalahan kita. Maka disinilah pertanyaan
yang diatas harus kita tanyakan, apa sebenarnya yang kita cari ?.
jika dulu anda mencari ijazah, ya anda sudah mendapatkannya, jadi jangan harap
lebih dari itu.
Namun sebaliknya, jika anda mencari ilmu maka
lakukanlah apa yang harus dilakukan oleh penuntut ilmu. Tidak diterima sebagai
pegawai menunjukkan kita belum layak untuk diangkat karena dangkalnya ilmu yang
kita miliki. Jika yang muda lebih berpotensi apa salahnya mereka mengganti
posisis kita, bukankah kita ingin negara ini lebih baik dan lebih maju ?.
bagaimana bisa maju jika stakeholdernya adalah orang yang tak tahu
apa-apa ?
Sekali lagi, tanyakan pada diri kita : apayang kita cari ?,
Belajar pada Albert Einstein.
Saya teringat pada kisah Albert Einstein yang saya
baca beberapa waktu lalu. Beliau adalah peraih beberapa medali, tapi beliau
tidak pernah mengharapkan itu. Beliau hanya mencari solusi atas masalah-masalah
yang terdapat dalam ilmu dalam bidangnya.
Bahkan,setelah beliau dianugrahi medali, dia hanya
pergi menonton bioskop dengan istrinya, saat pulang istrinya bertanya
‘bagaimana bentuk medalinya ?’ dia menjawab ‘saya belum melihatnya.
Dilain kesempatan, saat beliau menghadiri acara di
Prussian Academi, seorang tokoh penting bertanya ‘apa istri anda lupa
memasangnya (tanda penghargaan) dibaju anda?’ dia menjawa ‘buka, dia ingat, aku
saja yang tak mau memakainya’.
‘bukan medali yang dicari’, mungkin inilah
yang patut kita katakan untuknya, beliau mencari ilmu. Maka tidak heran beliau
dikenal diseluruh dunia.
Jika Albert tujuannya mencari ilmu, kita telah
menghabiskan waktu puluhan tahun di academi mau mencari apa ? gelar
sarjana ? gelar master ? apa ?
Jika mencari gelar, saya sudah bilang anda sudah
mendapatkannya, hanya sampai disitu, titik. Tidak usah melakukan demo-demo,
karena hanya menghabiskan waktu saja. Jika tujuan anda untuk mencari kerja,
yakinlah jenis pekerjaan itu tidak cocok untuk anda. Biarkanlah yang pantas
mengisinya untuk mengisi jabatn itu. Masih banyak pekerjaan diluar sana yang
cocok untuk anda yang bisa membuat anda kaya. Ingat ini adalah zaman persaingan
inteligensi, yang hanya menguasai sedikit informasi siap-siaplah untuk
disingkirkan.
Ilmu tidak ada hubungannya dengan rezeki
Kita sering menganggap bahwa
pendidikan dan ilmu yang banyak akan menjamin berlimpahnya rezeki, akan menjadi
kayaraya dengan ilmu. Padahal pada kenyataannya itu saat jauh perbedaannya.
Ilmu adalah nilai tambah (added value ) seorang hamba dihadapan Allah.
Dimana Allah akan meningkat derajat orang-orang yang berilmu lebih tinggi
beberapa derajat dibandingkan orang yang tidak berilmu. Hal ini telah
disebutkan dalam Al-quran, sebagaimana yang telah kami jelaskan pada artikel
sebelumnya. (baca disini )
Sedangkan rezeki adalah anugrah
Allah. Dimana Allah akan memberikan itu kepada siapa saja yang ia kehendaki.
Jadi dalam hal ini, tidak ada hukum klausal antara ilmu dengan rezeki. Meskipun
banyak kita melihat orang berilmu banyak rezeki dan untuk mendaftar di
institusi tertentu harus memiliki ijazah pada jenjang pendidikan tertentu.
Namun pada hakikatnya bukan seperti itu, buktinya banyak juga sarjana ekonomi
yang hidup miskin, dan orang yang tidak tamat SD bisa hidup mewah.
MOHON MAAF…….
Tulisan ini merupakan gambaran yang ada dalam
pikiran saya selaku orang bodoh, yang kemungkinan besar adalah ‘salah’. Namun
jika seandainya ini benar dan yang membacanya juga termasuk salah satu yang
pernah ikut berdemo beberapa waktu lalu maka saya minta maaf. Saya tidak hendak
mengejek atau merendahkan, saya hanya ingin member gambaran yang mungkin bisa
jadi bahan untuk menginstropeksi diri.
Apa aku akan jadi musuhmu ketika aku
mengkritikmu? Inilah kata-kata yang sering dikatakan oleh Prof Sahetapy dalam
acara ILC di TV ONE.
Diakhir catatan ini, saya ingin
mengutip ungkapan dari seorang tokoh:
“Tidak semua hal penting dapat dihitung, dan
tidak semua yang dapat dihitung itu penting”
Albert Einstein
Dan juga satu surah yang terdapat dalam Al-quran:
1. demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam
kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati
kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.