Hak Atas Tanah
Friday, 6 May 2016
SUDUT HUKUM | Definisi hak
atas tanah adalah hak yang memberi wewenang kepada seseorang yang mempunyai
hak untuk mempergunakan atau mengambil manfaat atas tanah tersebut. Hak
atas tanah berbeda dengan hak penggunaan atas tanah.
Ciri khas dari hak atas tanah adalah seseorang yang mempunyai hak atas tanah
berwenang untuk mempergunakan atau mengambil manfaat atas tanah yang
menjadi haknya. Hak-hak atas tanah yang dimaksud ditentukan dalam Pasal 16 jo
Pasal 53 UUPA, antara lain:
- Hak Milik
- Hak GunaUsaha
- Hak GunaBangunan
- Hak Pakai
- Hak Sewa
- Hak Membuka Tanah
- Hak MemungutHasil Hutan
- Hak-hak lain yang tidak termasuk dalam hak-hak tersebut di atas yang ditetapkan oleh undang-undang serta hak-hak yang sifatnya sementara sebagaimana disebutkan dalam Pasal 53.

- Hak gadai,
- Hak usaha bagi hasil,
- Hak menumpang,
- Hak sewa untuk usaha pertanian.
Hak-hak tersebut
bersifat sementara karena pada suatu saat nanti sifatnya akan dihapuskan. Oleh
karena dalam prakteknya hak-hak tersebut menimbulkan pemerasan oleh
golongan ekonomi kuat pada golongan ekonomi lemah (kecuali hak menumpang).
Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan asas-asas Hukum Tanah Nasional (Pasal
11 Ayat 1). Selain itu, hak-hak tersebut juga bertentangan dengan jiwa dari Pasal
10 yang menyebutkan bahwa tanah pertanian pada dasarnya harus dikerjakan dan
diusahakan sendiri secara aktif oleh orang yang mempunyai hak.
Sehingga apabila
tanah tersebut digadaikan maka yang akan mengusahakan tanah tersebut adalah
pemegang hak gadai. Hak menumpang dimasukkan dalam hakhak atas tanah
dengan eksistensi yang bersifat sementara dan akan dihapuskan karena UUPA
menganggap hak menumpang mengandung unsur feodal yang bertentangan
dengan asas dari hukum agraria Indonesia.
Dalam UUPA,
hak-hak atas tanah dikelompokkan sebagai berikut :
1. Hak atas
tanah yang bersifat tetap, terdiri dari :
- Hak Milik
- Hak Guna Usaha
- Hak Guna Bangunan
- Hak Pakai
- Hak Sewa Tanah Bangunan
- Hak Pengelolaan
2. Hak atas
tanah yang bersifat sementara, terdiri dari :
- Hak Gadai
- Hak Usaha Bagi Hasil
- Hak Menumpang
- Hak Sewa Tanah Pertanian
Pencabutan Hak
Atas Tanah adalah pengambilan tanah secara paksa oleh negara yang
mengakibatkan hak atas tanah itu hapus tanpa yang bersangkutan melakukan pelanggaran atau
lalai dalam memenuhi kewajiban hukum tertentu dari pemilik hak atas tanah
tersebut. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1961 tentang Pencabutan Hak
Atas Tanah dan Benda-Benda diatasnya hanya dilakukan untuk kepentingan umum
termasuk kepentingan bangsa dan negara serta kepentingan bersama milik
rakyat merupakan wewenang Presiden RI setelah mendengar pertimbangan
apakah benar kepentingan umum mengharuskan hak atas tanah itu harus dicabut,
pertimbangan ini disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri, Menteri Hukum dan HAM,
serta menteri lain yang bersangkutan. Setelah Presiden mendengar
pertimbangan tersebut, maka Presiden akan mengeluarkan Keputusan Presiden yang
didalamnya terdapat besarnya ganti rugi untuk pemilik tanah yang haknya dicabut
tadi. Kemudian jika pemilik tanah tidak setuju dengan besarnya ganti rugi, maka
ia bisa mengajukan keberatan dengan naik banding pada pengadilan tinggi.