Keutamaan Mempelajari Ilmu Hukum Islam
Saturday, 17 December 2016
SUDUT HUKUM | Pada
pembahasan sebelumnya, diuraikan bahwa Allah telah menetapkan hukum dari segala
sesuatu dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Para ahli ushul fiqih kemudian menggali
hukum-hukum syara’ yang dalam pengambilan hukumnya menggunakan perenungan (ta’ammul) yang mendalam, pemahaman dan ijtihad, sehingga ilmu hukum Islam (fiqh
Islam) menjadi term yang digunakan untuk sekelompok hukum yang bersifat amaliah
(Juhaya, 1987).
Beberapa
hal keutamaan mempelajari ilmu hukum Islam (fiqh Islam) adalah hal-hal berikut
ini:
1.
Tafaquh fid-dien (memperdalam
pemahaman agama) adalah perintah dan hukumnya wajib
Dengan
mempelajari ilmu hukum Islam, seseorang akan menjadi orang yang berilmu karena
mengetahui hukum-hukum agama. Kalau kita telah menjadi orang yang berilmu, maka
kita akan memiliki banyak kelebihan dan keutamaan diatas orang-orang yang tidak
berilmu. Dalam hal ini Allah berfirman:
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, Hikmah dan kenabian, lalu Dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (orang yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan Al-kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Q.S. Ali Imran [3]: 79)
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (Q.S. At-Taubah [9]: 122)
Dalam suatu
riwayat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” (Muttafaq ‘alaihi).
2.
Paham terhadap ilmu fiqih adalah nikmat yang agung dan tanda bertambahnya
kebaikan.
[D]an (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur-an) dan hikmah (As-Sunnah) kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu sangat besar.” (Q.S. An-Nisaa’ [4]: 113)
Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” (Mutafaqqun ‘Alaih)
3.
Ilmu hukum Islam adalah penjaga Al-Qur’an dan Sunnah dari
penyimpangan/kesesatan.
Ilmu
syariah telah berhasil menjelaskan dengan pasti dan tepat tiap potong ayat dan
hadits yang bertebaran. Dengan menguasai ilmu syariah, maka Quran dan Sunnah
bisa dipahami dengan benar sebagaimana Rasulullah SAW mengajarkannya.
Sebaliknya, tanpa penguasaan ilmu syariah, Al-Quran dan Sunnah bisa
diselewengkan dan dimanfaatkan dengan cara yang tidak benar.
Telah aku tinggalkan pada kalian dua perkara yang jika kalian berpegang dengan keduanya, tidak akan tersesat : Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya”. (HR.Muslim)
Barangsiapa yang beramal dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak.” (Mutafaqqun ‘Alaih)
Ini
menunjukkan bahwa orang yang tidak diberikan pemahaman dalam agamanya tidak
dikehendaki kebaikan oleh Allah, sebagaimana orang yang dikehendaki kebaikan
oleh Allah, maka Dia menjadikannya faham dalam masalah agama. Dan barangsiapa
yang diberikan pemahaman dalam agama, maka Allah telah menghendaki kebaikan
untuknya. Dengan demikian, yang dimaksud dengan pemahaman (fiqh) adalah ilmu
yang mengharuskan adanya amal.
4.
Ahlu fiqih dan orang yang mempelajarinya adalah orang yang memiliki derajat
yang tinggi.
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Q.S. Al Mujadilah [58]: 11)
5.
Orang yang paham ilmu syari’at adalah orang yang dekat kepada taufiq dan
hidayah Allah
Dan orang-orang yang diberikan ilmu memandang bahwa apa yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabbmu adalah kebenaran dan akan membimbing kepada jalan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Terpuji.” (Q.S. Saba’ [34]: 6)
Demikianlah permisalan-permisalan yang dibuat oleh Allah bagi manusia dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Q.S. Al-’Ankabuut [29]: 43)
6. Tidak Paham Syariah dan khsususnya fiqih
akan menimbulkan Perpecahan dan menghilangkan kekuatan umat
Para ulama
terbiasa berbeda pendapat, karena berbeda hasil ijtihad sudah menjadi
keniscayaan. Namun karena ilmu yang mereka miliki membuat mereka tidak saling
mencaci, menjelekkan atau menafikan.
Sebaliknya,
semakin awam seseorang terhadap ilmu syariah, biasanya akan semakin tidak punya
mental untuk berbeda pendapat. Sedikit perbedaan di kalangan mereka sudah
memungkinkan untuk terjadinya perpecahan, pertikaian, bahkan saling menjelekkan
satu sama lain.
Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al Anfaal [8] :46)
7. Kehancuran umat dan datangnya kiamat
Ditandai Dari Hilangnya Ilmu Syariah
Islam tidak
akan hilang dari muka bumi, sebab janji Allah SWT terhadap umat ini sudah
pasti. Namun umatnya bisa lemah dan runtuh. Kelemahan itu umumnya terjadi
manakala ilmu syariah sudah mulai ditinggalkan. Dan para ulama ulama diwafatkan
dan tidak ada lagi ahli syariah yang dilahirkan. Sehingga tidak ada lagi orang
yang bisa mengarahkan jalannya umat ini. Hal ini dikarenakan syariah adalah
benteng umat. Manakala Allah SWT ingin melemahkan umat ini, maka syariah Islam
akan dikurangi. Sebaliknya, bila Allah SWT ingin menguatkan umat ini, maka akan
dimulai dengan lahirnya para ulama yang akan mengusung syariah di muka bumi.
Hal ini
sebagaimana hadits berikut:
Diantara tanda-tanda terjadinya hari kiamat yaitu: diangkatnya ilmu, kebodohan merajalela, banyaknya orang yang meminum minuman keras, dan zina dilakukan dengan terang-terangan.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi." Ada seorang sahabat bertanya; 'bagaimana maksud amanat disia-siakan? ' Nabi menjawab; "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR. Bukhari)
8. Tipu Daya Orientalis dan Sekuleris
Sangat Efektif Bila Lemah di Bidang Syariah
Racun
pemikiran Orientalis dan Sekuleris tidak akan mempan bila tubuh umat
diimunisasi dengan pemahaman syariah Setiap individu muslim pada dasarnya bisa
dengan mudah terserang tusukan tajam para orientalis ini. Maka dengan menguasai
ilmu-ilmu syariah, diharapkan bisa menjadi penangkal semua racun yang merusak
dan mematikan.
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfaal [8]: 73)
9. Ilmu Hukum Islam Adalah Ilmu Yang Siap
Pakai
Berbeda
dengan belajar tafsir, hadits, shirah dan ilmu-ilmu lainnya, di dalam ilmu hukum
Islam kita dikenalkan dengan cara mengambil kesimpulan hukum dari beragam dalil
yang tersedia. Ada sekian banyak dalil yang terserak di berbagai literatur.
Sehingga tidak mudah bagi seseorang untuk mengumpulkannya menjadi satu. Belum
bila dilihat sekilas, mungkin saja masing-masing dalil baik dari Al-Qur’an dan
As-Sunnah berbeda bahkan bertentangan satu sama lain.
Di sinilah keutamaan ilmu hukum Islam,
yaitu merangkum sekian banyak dalil, menelusuri keshahihannya dan mengupas istidlalnya serta memadukan antara satu dalil dengan lainnya menjadi sebuah
kesimpulan hukum. Lalu hukum-hukum itu disusun secara rapi dalam tiap bab yang
memudahkan seseorang untuk melacaknya. Dan biasanya yang baik adalah dengan
mencantumkan juga dalil serta bagaimana istinbat hukumnya. Dan lebih penting dari semua itu, apa yang dipersembahkan
ilmu hukum Islam ibarat daftar perintah dan aturan Allah SWT yang sudah rinci
nilainya, apakah menjadi wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram.[*]